IKAUNPASBANDUNG. Powered by Blogger.
Showing posts with label alumni berprestasi. Show all posts
Showing posts with label alumni berprestasi. Show all posts

Alumnus Pertama Prodi Doktor Ilmu Hukum Unpas


Dr. Saim Aksinuddin, S.H., M.H.
Lahir di indramayu dengan nama lengkap Saim Aksinuddin. Ia biasa dipanggil Saim. Lelaki yang dilahirkan di Indramayu ini memiliki istri bernama Tien Wiartini dan dikaruniai anak putra bernama Rizki Baharudin Saim dan putrinya bernama Fauzah Irawati Saim.
Menjadi lulusan pertama Prodi S3 Ilmu Hukum Universitas Pasundan, merupakan kebanggaan baginya. Ditambah ia lulus dengan nilai cumlaude, yaitu 3.91. Tidak hanya bagi dirinya, tetapi ke-cumlaude-an itu bermamfaat pula bagi akreditasi Pascasarjana Unpas. Dalam mengambil gelar doktor, ia mengambil disertasi yang berjudul “Kepastian Hukum Kepemilikan Hak Milik atas Tanah Bersertifikat Dihadapkan dengan Hukum Adat dalam Sistem Pertanahan di Indonesia”. Ia berkata disertasinya ini sangat bermanfaat bagi negara dalam bidang hukum pertanahan.
Menurutnya, ia mungkin satu-satunya alumnus Unpas yang konsisten studi di Unpas. Ia menyelesaikan studi S1, S2, sampai S3 di Fakultas Hukum Unpas. Baginya, ini adalah upaya untuk terus bisa mengabdi di Unpas.
Ketua IKA FH Unpas dan Biro Hukum Paguyuban Pasundan
Selain mendapat gelar doktor di Unpas, Saim menjabat sebagai Ketua IKA Fakultas Hukum (FH) Unpas. Ia berharap kepada lulusan FH Unpas agar bersatu dan mempererat silaturahmi dengan kembali ke FH. Hal tersebut pun rencananya akan difasilitasi dengan mengadakan reuni akbar FH Unpas yang akan mengundang semua lulusan dari mulai angkatan pertama FH Unpas.
Ia juga mengimbau kepada para alumni FH Unpas untuk bahu membahu membesarkan Unpas. Salah satu caranya adalah dengan menghimpun dana yang nantinya bisa dijadikan beasiswa alumni Unpas untuk mahasiswa Unpas. Beasiswa ini nantinya bisa sangat bermanfaat karena bisa merangsang generasi Unpas sekarang untuk berprestasi.  
Selanjutnya sebagai Ketua Biro Hukum Paguyuban Pasundan (BHPP) 2015—2020, ia mengimbau kepada masyarakat Paguyuban Pasundan (PB) bila saja memiliki permasalahan hukum, BHPP siap membantu. Ia berpendapat dari pada menggunakan jasa biro hukum lain, lebih baik menggunakan jasa hukum dari biro Paguyuban Pasundan. Selain untuk masyarakat PB, ia juga secara terbuka siap membantu masyarakat Sunda lainnya dalam persoalan hukum. Tidak usah khawatir masalah geografis atau jarak dari masyarakat Sunda ke BHPB karena  sekarang sudah dibuka cabang di sejumlah daerah, seperti Sumedang, Subang, dan Cianjur

dedenfirmansoemantri@gmail.com Silahkan untuk Memberi komentar
Published: By: Forumkomunikasifhunpas - Monday, November 21, 2016

Sumyana, Berprinsip dalam Kuliah dan Kerja


Di tengah susahnya mendapatkan pekerjaan, memiliki pekerjaan yang mapan dengan gaji tetap adalah harapan semua orang saat ini. Namun, hal tersebut bukanlah prinsip bagi Sumyana. Lulusan Fakultas Ekonomi Unpas ini tidak takut berpindah pekerjaan, meskipun pekerjaan tersebut menawarkan posisi mapan dan gaji tetap. Hal tersebut jelas terlihat dari karier pekerjannya.
Sumyana dilahirkan di Bandung, 11 September 1964. Ia adalah anak kesepuluh dari 10 bersaudara. Ia berasal dari keluarga yang dekat dengan buku bacaan. Hal itu mengingat ayahnya adalah pengarang buku-buku SD. Selama kuliah di Unpas, ia mengambil kelas sore karena kesibukannya bekerja di BKKBN. Namun, meskipun mengambil kelas sore, ia termasuk mahasiswa yang lulus cepat. Baginya, faktor ekonomilah yang membuatnya lulus cepat. “Ya kalau kuliah lama, biaya kuliah kan jadi  besar,” ujarnya.
Lelaki yang sekarang diamanahi sebagai Direksi Perum Jasa Tirta II ini, begitu mengenang studinya di Unpas. Salah satu yang paling terkenang adalah “bahasa Sunda”. Baginya Unpas begitu unik perihal komunikasi karena meskipun mahasiswa Unpas berasal dari berbagai suku, tetapi komunikasi tetap memakai bahasa Sunda. Menurutnya mengapa bahasa Sunda begitu nyaman digunakan karena berbagai ekspresi lebih mengena diungkapkan dengan bahasa Sunda dibanding dengan bahasa Indonesia. Ia pun berharap kenangannya ini bisa terus bertahan dan dirasakan generasi selanjutnya di Unpas, dengan Unpas terus mendukung keberadaan bahasa dan budaya Sunda.
Bicara tentang kariernya, Sumyana memiliki banyak pengalaman kerja. Menariknya meskipun pada saat itu sudah berpekerjaan mapan dan bergaji tetap, ia tidak pernah takut untuk pindah pekerjaan, dengan profesi yang berbeda dan bahkan dengan gaji yang berbeda pula. Ia kerap merasa tidak puas dan ingin mencari pengalam baru. Oleh karena itu, tidak heran bila dalam beberapa tahun pengalam kerjanya banyak.
Dalam riwayat kariernya, setelah lulus, ia bekerja di PT Toby Meza tahun 1988. Bekerja di sana hanya bertahan 3 tahun karena di tahun keempat ia memilih untuk menerima pinangan Bank BRI. Kemudian, merasa ingin mendapatkan tantangan baru, di tahun 1990, ia pindah kembali dan bekerja di Ditjen Moneter Departeman Keuangan. Di tempat barunya ini, ia berstatus PNS. Setalah di Ditjen Moneter inilah kariernya beranjak ke mana-mana, dari satu posisi ke posisi lain, dari satu bidang ke bidang lain. Di tabel berikut disajikan keragaman kariernya.
No.
Pekerjaan
Masa kerja
1.
Staf Tenaga Kerja Survey pada BKKBN Prov. Jabar
1984-1987
2.
Market Research,Tobby Meza, Co Jakarta – Holding Pharmaceutical.
1988-1990
3.
Staf pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero)
1990-1991
4.
Pegawai pada Direktorat persero, Ditjen Moneter Dep. Keuangan
1991-1995
5.
Kepala Seksi pada Ditjen Pembinaan BUMN, Dep. Keuangan
1995-1998
6.
Kepala Subbagian Administrasi, pada Kementrian Negara BUMN
1998-2000
7.
Kepala Seksi, Direktorat Jendral Pembinaan BUMN, Dep Keuangan
2001-2002
8.
Kasubbid Asdep urusan perkebunan, Deputi Bidang Usaha Agro Industri Kehutanan, kertas, Percetakan, dan Penerbitan Kementrian Negara BUMN
2002-2006
9
Kepala Bidang Usaha Jasa Perencanaan Konstruksi dan Rekayasa II pada Deputi Bidang Usaha Jasa Lainnya, Kementrian Negara BUMN
2006-2010
10
Kepala Bidang Usaha Infrastruktur dan Logistik Iia, Pada Deputi Bidang Usaha Insfrastruktur  dan Logistik, Kementrian BUMN
2010-2012
11
Asisten Deputi Bidang Usaha Indrustri Primer III, Pada Deputi Bidang Usaha Indrustri Primer, Kementrian BUMN.
2012-2014
12
Asisten Deputi Usaha Perkebunan dan Kehutanan, pada Kedeputian Bidang Usaha Industri Agro dan Industri Strategis, Kementrian BUMN
2014-2015
13
Direksi pada Perum Jasa Tirta II,
2015-sekarang

Selalu siapnya ia dalam pekerjaan yang berbeda, didasari keyakinannya bahwa orang sukses adalah orang yang pandai memanfaatkan ilmunya. Pemanfaatan ilmu itu ditunjukkan dengan mampunya ia bekerja dalam berbagai pekerjaan yang berbeda. Indikatornya adalah “adaptasi”. Seseorang baginya harus mampu beradaptasi dengan pekerjaan yang berbeda, tidak hanya mampu dalam satu bidang pekerjaan. Inilah kunci sukses Sumyana dalam berkarier selama ini.
Ia juga berprinsip belajar tanpa terbatas pada satu bidang ilmu. Ini dibutuhkan karena dunia kerja siapa yang tahu dan besar kemungkinan kita bekerja tidak dibidang yang kita pelajari ketika kuliah. Contohnya, sewaktu kuliah ia belajar manajemen, tetapi ketika di dunia kerja, ia pernah dituntut bekerja di bidang marketing. Ia pun tidak lantas menolaknya. Justru ia belajar dan menerima tantangan itu. Sampai akhrnya, ia bisa menjalankan pekerjaan tersebut.
Lalu mengapa hal-hal tersebut bisa ia dilakukan?
Hal tersebut menurutnya bisa ia pondasikan pada dirinya karena ia kuliah dengan visi dan misi yang jelas. Bukan sekadar paksaan orang tua. Ia memilih kuliah karena ia punya alasan dan tujuan kuliah. Hal itu pula yang kiranya harus dimiliki mahasiswa sekarang menurutnya. Dengan visi misi jelas, kita akan tahu apa yang kita akan lakukan ketika lulus nanti.
Untuk Alumni
Disinggung mengenai alumni, Sumyana berpendapat saat ini kelemahan alumni adalah kurangnya pengalaman. Alumni hanya mengetahui hal-hal teoretis, tetapi tidak mengetahui hal-hal yang sifatnya praktis. Apalagi di era MEA ini persaingan semakin ketat dan hanya mereka yang memiliki pengalaman praktis lebih banyak yang akan menang.
Pengalaman tersebut sebetulnya bisa didapatkan sebelum lulus, yaitu dari program magang. Oleh sebab itu, ia sangat mendorong dan mendukung program magang sebelum lulus karena itu bisa menjadi sarana mencari pengalaman. Menanggapi realitas teresbut, ia pun sedang mempersiapkan program kerja sama antara dirinya dan Unpas. Ia berharap program ini bisa terlaksana sehingga mejadi sarana bagi alumni Unpas untuk mendapatkan pengalaman.

Kemudian, bicara tentang alumni dan IKA Unpas, ia berpesan agar alumni jangan sampai lupa dengan almamaternya. Salah satu wujud ikatan antara alumni dan almamater adalah IKA. Dengan demikian, ketika nanti sudah sukses jangan sampai lupa untuk berkontribusi untuk Unpas baik IKA fakultas maupun IKA universitas. Menurutnya hal terpenting tentang IKA adalah kontribusi kita untuk IKA, bukan apa kontribusi IKA untuk kita. 
dedenfirmansoemantri@gmail.com Silahkan untuk Memberi komentar
Published: By: Forumkomunikasifhunpas - Monday, November 21, 2016

Ahmad Sodikin, Berkarier dari Bawah


Ahmad Sodikin dilahirkan di Karawang, 12 Februari 1960. Sekarang ia menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Majalengka. Jabatan tersebut diamanahkan kepadanya semenjak Desember 2015. Sebelum menjadi salah satu orang penting di Majalengka, ternyata lelaki yang kerap dipanggil Diki ini, memiliki riwayat karier yang panjang. Kariernya tersebut ia rintis dari Staf Kantor Camat Jatiwangi. Artinya, ia berjuang dari level paling bawah.
Ahmad Sodikin menyelesaikan sekolah dasar dan menengah di Karawang, tepatnya di SDN 2 Karawang dan SMPN 2 Karawang. Setelah itu, karena ikut kakanya di Bandung, ia melanjutkan sekolah menengah atas di Bandung, di SMAN 24 Bandung dan menempuh studi S1 di Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Pasundan.
Beruntung beberapa tahun setelah lulus, pemerintah membuka lowongan PNS. Ahmad Sodikin pun mendaftar, lalu setelah melalui tahapan seleksi, ia dinyatakan lulus. Tugas pertamanya pun ia emban di Majalengka sebagai Staf di Kantor Kecamatan Jatiwangi. Itu adalah salah satu jabatan yang relatif rendah bagi PNS.
Meskipun begitu, niatannya untuk mengabdi tak lekang. Di jabatannya tersebut, ia berusaha memberikan kontribusi terbaik. Jerih payahnya pun membuahkan hasil karena hanya selang tiga tahun, ia diangkat menjadi Kamawil Hansip Kecamatan Jatiwangi. Dari titik itulah kariernya terus menanjak. Pasti selang beberapa tahun lelaki bergelar magister dialihtugaskan ke tanggung jawab yang lebih tinggi atau setidaknya di bidang pemerintahan yang lain. Tercatat dari tahun 1986 sampai sekarang, ia sudah menempati 17 jabatan dari mulai staf, camat, kepala bagian, staf ahli, sampai sekretaris daerah. Untuk lebih jelasnya, di tabel berikut disajikan riwayat karier Ahmad sodikin.

 No.
Jabatan
TMT Jabatan
1
Staf kantor camat Jatiwangi
01-03-1986
2
KAMAWIL HANSIP kecamatan Jatiwangi
06-10-1986
3
MPP kecamatan JatiTujuh
19-18-1991
4
Kasi Trantib kecamatan JatiTujuh
30-01-1995
5
Sekretaris kecamatan Kertajati
13-06-1995
6
Camat Pembantu Cingambul
13-04-1998
7
Pejabat Camat Jatitujuh
06-03-1999
8
Camat Jatitujuh
26-02-2001
9
Camat Rajagaluh
24-12-2001
10
Camat Dawuan
25-04-2005
11
Kabag Kesejahteraan Setda Kab. Majalengka
02-01-2006
12
Kabag Kepegawaian Setda Kab.Majalengka
01-09-2006
13
Staf Ahli Bupati Majalengka
13-03-2008
14
Kepala Pelaksana BPBD
04-01-2010
15
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Perempuan dan KB
31-10-2011
16
Kepala Badan Kepegawaian Daerah
31-10-2011
17
Sekretaris Daerah
28-12-2015

Aktif Berorganisasi
Ternyata kepiawaiannya dalam berbirokrasi, didapat Ahmad Sodikin dari dunia kampus. Ia menjelaskan bahwa ketika kuliah di Unpas, ia aktif berorganisasi. Salah satu pengalaman berorganisasi yang paling ia kenang adalah ketika menyelenggarakan turnamen bola basket. Kegiatan tersebut bisa dibilang sukses mengingat bisa diadakan selama dua tahun berturut-turut. Menurutnya, masalah yang kerap dihadapi dalam berorganisasi di kampus adalah dana. Berdasarkan pengalamannya, terkadang dana sulit untuk dicairkan meskipun sudah lama diajukan. Dalam kondisi tersebut, ia pernah menggadaikan barang-barang pribadinya. Pada waktu itu, tentu saja hal tersebut sangat berat untuk dilakukan. Tetapi, ternyata sekarang hal itu menjadi kenangan yang tak terlupakan karena lewat pengorbanannya kegiatan yang ia rencanakan bisa sukses terlaksana.
Ditanya tentang alumni Unpas, Ahmad Sodikin berpesan agar para alumi dapat menjaga nama baik almamater dengan menunjukkan kualitas diri di masyarakat. Menurutnya, ketika para terjun ke masyarakat, akan ada harapan yang tinggi dari masyarakat mengingat pengalaman mengeyam pendidikan yang lebih tinggi. Dengan demikian, alumni harus mampu menunjukkan kontribusi yang real di masyarakat berdasarkan pengetahuan dan jiwa kepemimpinan yang didapat selama kuliah. Ia pun memberikan contoh diangkatannya banyak sekali yang mampu berperan di masyarakat dengan menjadi pemangku kepentingan di berbagai daerah.
Selanjutnya, ia berpesan agar IKA Unpas bisa menjadi media silaturahami dan sarana bertukar informasi antaralumni. Ia menyatakan sudah banyak alumni yang sukses dan IKA harus menjadi media penghimpunnya. Bila saja hal tersebut bisa dilakukan IKA, bisa didapat manfaat yang besar dari para alumni yang sukses baik bagi alumni Unpas yang lain maupun masyarakat luas.

***
dedenfirmansoemantri@gmail.com Silahkan untuk Memberi komentar
Published: By: Forumkomunikasifhunpas - Monday, November 21, 2016

Fegi Lestari Alumni FISS

Fegi Lestari

Terlahir sebagai angkatan pertama di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra atau dikenal akrab oleh mahasiswa FISS merupakan tantangan yang sangat luar biasa dalam menimba Ilmu pengetahuan dengan kondisi keterbatasan, baik dalam segi akademik ataupun fasilitas. Namun, persoalan itu tidak menyurutkan niat seorang perempuan yang masuk dalam jurusan Sastra Inggris FISS di tahun 1999 untuk terus belajar dengan maksimal.
Inilah awal kiprah seorang perempuan bernama Fegi Lestari yang merupakan lulusan ke-3 terbaik FISS yang kini menjadi akademisi di jurusan Sastra Inggris. Dibalik keterbatasan program studi Sastra Inggris pada awal masuk menjadi mahasiswa, dirinya ingin menciptakan lingkungan akademik yang lebih baik. Sehingga harapan dalam optimalisasi kelembagaan di civitas akademika Unpas yang menjadi cita-citanya kini mampu direalisasikan dengan suka cita dan perasaan bangga, disaat terpanggil untuk mengabdi kepada Almamater Universitas Pasudan.   
Rangkaian seleksi menjadi Dosen dilingkungan Unpas menjadikan pengalaman yang sangat bermakna, dikarenakan pada saat terpilih harus menjalani tahapan seleksi yang ketat. Diawal seleksi, harus menjalani test interview, presentasi silabus mata kuliah, metode teaching untuk menguji kemampuan dan kredibilitas menjadi seorang dosen. Setelah diterima sebagai dosen, dirinya terpilih menjadi dosen terbaik dan harus bersaing dengan banyak kawan-kawan yang lain.
Perjalanan menjadi dosen selama 14 tahun pengabdian, merupakan pengalaman yang sangat penting karena pengalaman tersebut berdampak pada kredibilitasnya untuk mengajar diberbagai tempat, dengan kondisi yang berbeda-beda. Pengalaman mengajar itu tidak hanya di FISS, melainkan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Ilmu Komunikasi FISIP Unpas.
Tidak hanya mengabdikan didunia pendidikan, namun pihaknya terlibat dalam kegiatan sosial. Tindakan itu dilakukannya semata-mata bukan hanya mengejar duniawi melainkan kehidupan yang kekal nanti di akherat, sehingga konsep keseimbangan harus dilakukan. Kegiatan lainnya yang tak luput dari aktifitas keseharian, pihaknya mengajar selama 6 tahun ditempat kursus kota Bandung, dikarenakan kemampuan berbahasa asing khususnya mengusai  menguasai toefl, ielts dan lainnya, semua itu tidak hanya didapatkan dari pendidikan formal melainkan di luar khususnya di tempat kursus atau pelatihan bahasa.
Pesan wisudawan /i..
Bagi wisudawan yang memasuki dunia kerja pada dasarnya gelar akademik  itu sangat penting tapi menurut saya memiliki skill, soft skill dan hard skill sangat penting, hal itu harus benar-benar kita perhatikan  suapya kita dapat memilikinya secara seimbang jangan sampai soft skillnya tinggi tapi hard skillnya sedikit haruslah seimbang, kenapa skill itu saya katakan penting karena ketika kita masuk dunia kerja, terkadang ijasah atau sertifikat itu tidak menjadi jaminan tetapi ketika anda memiliki skill yang luar biasa, sangat dibutuhkan oleh banyak pihak.
Kontribusi Alumni bagi Unpas
Kondisi IKA FISS sendiri belum berjalan dengan baik, tetapi terus di coba agar berjalan dengan sempurna seperti di FISIP atau Ekonomi yang sudah berjalan selama puluhan tahun, tetapi minimalnya Ikatan Keluarga Alumni (IKA) FISS Unpas sudah terbentuk dan menjadi wadah para alumni yang ingin berbagi pengalaman atau mengembangkan IKA FISS itu sendiri.
Saya harap alumni dapat berkontribusi menjadi dosen-dosen pengajar di fiss unpas sendiri, karena jika alumni yang mengajar maka akan ada rasa kebanggaan dan rasa memiliki yang kuat sehingga dosen tersebut merasa ingin mengembangkan fakultas nya dan dapat menganggap fakultanya itu sebagai rumah kedua bagi para dosen pengajar tersbut.
Diharapkan fakultas seni dan sastra dapat bersaing dengan fakultas yang lain di Unpas dan umumnya di Indonesia, dengan memiliki alumni-alumni yang besar maka dapat pula mengangkat Unpas menjadi Universitas yang besar pula. Kampus telihat bonafide karena lulusan alumninya.
Banyak alumni FISS yang telah berhasil, salah satunya alumni yang bekerja di kedutaan amerika dan sudah bekerja selama 3 tahun, ada yang bekerja di LIPI kemudian di perbankan dan perusahaan-perusahaan besar serta ada pula yang menjadi dosen dan guru bahasa inggris.(Den/Ver)
dedenfirmansoemantri@gmail.com 
Silahkan untuk Memberi komentar
Published: By: Unknown - Monday, January 04, 2016

Mantan Bupati Lebak, Bermodalkan Sarjana Muda.

Endang Suwarna

Dilahirkan di kota Tasikmalaya pada tahun 1938 dan mengalami tiga rezim pemerintahan yaitu di-era Belanda, Jepang, dan kemerdekaan merupakan pengalaman hidup mahasiswa lulusan pertama jurusan Administrasi Publik yang berlokasi di Jalan Lengkong Besar kampus Universitas Pasudan dan meraih gelar akademiknya sebagai sarjana muda lengkap atau dikenal bakaloriat Unpas. Mahasiswa yang bernama Endang Suwarna ini merupakan Sarjana muda pertama lulusan Publik Administrasi Sospol Universitas Pasundan yang mendapatkan studi dikampus yang memiliki bangunan sejarah dan dipimpin oleh tokoh sunda yaitu Suradiredja.
Semasa kuliahnya Endang sudah terbiasa untuk bekerja, pagi sampai siang kerja dan sorenya melaksanakan kewajibannya sebagai mahasiswa untuk kuliah, hal ini yang harus dapat dicontoh oleh mahasiswa saat ini. Kita tidak akan tahu bagaimana orang tua membiayai kuliah, mereka bisa menjual sawah, sapi (ternaknya) atau bahkan menggadaikan SK untuk membiayai kuliah. Sehingga dengan membantu orang tua bekerja diluar aktifitas kuliah, setidaknya ikut meringankan beban orang tua.
Dalam dunia karir Endang Suwarna mampu mencapai masa keemasannya dan terlihat dari rekam jejak karir beliau. Setelah lulus dari Unpas, pihaknya diterima di pemerintahan Jawa Barat sebagai Pegawai Negeri Sipil, kemudian menjadi Sekretaris di Kabupaten Tanggerang dan setelah itu menjadi Bupati Lebak Banten dan kemudian dipercaya menduduki jabatan Asisten Administrasi Sekretaris Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat serta akhirnya menjadi Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat.
Menjadi salah satu sarjana muda Unpas (bakaloriat) yang berhasil tentunya akan menjadi semangat atau motivasi bagi para Alumni Unpas. Namun, dibalik kesuksesan beliau dedikasinya kepada Unpas terlihat ketika lulus dari Unpas, beliau diangkat menjadi Sekretaris Sosial Politik Unpas, yang pada saat itu Dekannya oleh Sena Prawira dan beliau berhasil merekrut akademik penerangan yaitu Bapak Eo.
Bermodalkan sarjana muda Unpas beliau dapat deterima oleh Pemerintah provinsi Jawa Barat dan pada saat itulah lulusan dari Unpas dipercaya oleh Pemerintah Jawa Barat. Pada jaman beliau menjadi bupati di Lebak Banten, beliau satu-satunya Bupati Lebak sebelum dan sesudah beliau di angkat sebagai Diistrenan bahkan 2 kali oleh masyarakat Baduy. Tetapi pada prinsipnya ada tiga hal yang harus dilakukan ketika menjadi pemimpin diantaranya, pemimpin harus menguasai lingkungan (governance), pemimpin harus menguasai sumber daya manusia (SDM), pemimpin harus menguasai Values (nilai). Namun, Universitas Pasundan pada dasarnya telah memberikan pondasinya kepada kita sebagai pemimpin, tinggal dapatkah mengaplikasikan ilmu-ilmu itu dilapangan dan hal yang tidak dimiliki oleh perguruan tinggi lain diluar Unpas adalah nilai kesundaan, kesopanan dan kebersamaan.
Disaat beliau menjabat sebagai Bupati Lebak, saat itu mengalami dua perbedaan di antaranya pada jaman sebelum reformasi tugas yang di berikan Presiden sebagai Top Manager adalah membangun rakyat dan yang kita kejar adalah income perkapita sehingga meningkatkan harkat martabat masyarakat. Tetapi di jaman reformasi beralih tidak hanya mengejar income perkapita tapi mendaptkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), jadi di jaman sekarang selain memikirkan masyarakat diwilayah kekuasaan, tetapi pejabat pemerintahan harus memikirkan Lembaga Pemerintahannya juga. Maka dari itu ketika menjadi Bupati pada jaman sebelum reformasi dari seluruh Bupati yang jumlahnya 540 Bupati pada jaman itu tidak ada yang masuk ke Sukamiskin atau dinyatakan tidak menyalahkangunakan kekuasaannya dalam mengelola anggaran (korupsi). Namun, berbeda dengan jaman reformasi lebih dari 350 Bupati di Indonesia masuk ke Sukamiskin.
Kegiatannya selama studi di Unpas menjadi penerang ketika menjabat sebagai Bupati, dikarenakan beliau menerapakan filosofi unpas yakni Pengkuh agamana, luhung elmuna dan jembar budayana dan filosofi itu di pegangnya sampai sekarang. Unpas memiliki perbedaan dengan kampus yang lain yaitu pengkuh agamana, karena menurut beliau hal di atas dapat menutupi kekurangan dari pendidikan yang ada di negeri ini, yakni kurangnya menekankan akhlak budi pekerti. Berikut riwayat pekerjaan semasa hidup hingga kini :
1.Pegawai Negara Sipil (PNS) Pemda Provinsi Jawa Barat, tahun 1965-1984
2.Sekretaris Wilayah Kabupaten Tanggerang, tahun 1984-1988
3.Bupati kepala Daerah Lebak di Rangkasbitung, tahun 1988-1993
4.Asisten Administrasi Sekretaris Pemda Provinsi Jawa Barat, tahun 1994-1997
5.Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, tahun 1997-1999
Bagi para alumni Universitas Pasundan dihari yang berbahagia ini, ketika disahkan menyandang gelar akademik menjadi sarjana diharapkan dapat memberikan kontribusinya melalui pengabdian kepada Universitas Pasundan dalam pengembangan pendidikan secara nyata. Kemudian berbuat baiklah karena dengan berbuat baik maka orang lain akan bertanya dia dari mana, dan ketika mengetahui dari Unpas, maka menjadi promosi secara tidak langsung untuk pembangunan Unpas kedepan. 
dedenfirmansoemantri@gmail.com 
Silahkan untuk Memberi komentar
Published: By: Unknown - Wednesday, December 30, 2015