IKAUNPASBANDUNG. Powered by Blogger.

Unpas Terus Promosikan Diri

Tahun ajar baru tinggal beberapa bulan lagi. Menanggapi hal tersebut, Unpas, melalui Deden Ramdan, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, mengutarakan berbagai upaya yang sudah dilakukan. Salah satu yang dilakukan adalah mempromosikan kembali Unpas ke masyarakat.
“Promosi Unpas dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung”, ujar Deden yang ditemui di kantornya.
Ia menjelaskan bahwa cara langsung ditempuh dengan melakukan kunjungan langsung ke masyarakat. Cara ini sudah dilakukan Unpas lewat sejumlah kegiatan seperti penanaman mangrove dan sosialisasi bahaya Narkoba kepada siswa di Pangandaran. Sementara itu, cara tidak langsung ditempuh dengan memasang iklan di area-area publik, media massa, dan media sosial. Promosi-promisi tersebut tidak hanya dilakukan oleh Unpas, tetapi juga oleh para alumni.
Selanjutnya menurut Deden, standar promosi yang dipegang Unpas adalah “memperkenalkan, menginformasikan, dan menyampaikan”. Jadi, baik cara langsung atau tidak langsung harus memiliki tiga kata kerja tersebut. Sementara itu, ketika ditanya tentang luaran yang diharapkan dari promosi-promosi tersebut, ia menyatakan bahwa harus ada tiga hal yang dihasilkan yang nantinya juga bisa jadi bahan evaluasi.
“Pertama, bagaimana pesan disampaikan, kedua, bagaimana masyarakat terpersuasi, dan ketiga bagaimana masyarakat tertarik berkuliah di Unpas,” paparnya menjelaskan tentang luaran kegiatan promosi Unpas.
Dalam promosi tersebut, menurutnya ada sejumlah hal yang patut disampaikan. Hal-hal tersebut seperti kegiatan belajar-mengajar di Unpas, realisasi Tridarma Perguruan Tinggi di Unpas, kegiatan nonakademik di Unpas, dan prestasi Unpas. Untuk contoh kegiatan nonakademik, bisa dipaparkan bahwa Unpas memiliki 10 lembaga kemahasiwaan, 8 UKM, 30 Himpunan, 6 fakultas, dan I BEM universitas.
Dengan promosi yang gencar, tepat, dan baik, Deden berharap peminat Unpas bisa meningkat di tahun ajar 2016—2017. Menurutnya, pada dasarnya peminat Unpas selalu meningkat tiap tahun. Sebagai contohnya, di tahun ajar kemarin ada 5.000 orang pendafar. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya.

dedenfirmansoemantri@gmail.com Silahkan untuk Memberi komentar
Published: By: Forumkomunikasifhunpas - Sunday, November 20, 2016

Wakil Rektor 1: Akreditasi Unpas Tinggal Menunggu Waktu


Akreditasi institusi telah menjadi keharusan bagi setiap institusi perguruan tinggi (IPT). Itulah yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012. Menanggapi hal tersebut, Unpas pun terus bergerak untuk merampungkan sejumlah persyaratan akreditasi agar hasilnya bisa sesuai harapan. Ditanya perihal akreditasi ini, Jaja Suteja, Wakil Rektor Bidang Akademik Unpas, menyebut bahwa akreditasi institusi ini adalah tuntutan dari pemerintah.
Ia pun menjelaskan bahwa akreditasi terdapat dua, yaitu akreditasi program studi dan institusi. “Selama ini akreditasi ada 2. Yang pertama akreditasi program studi dan yang kedua akreditasi institusi,” papar Jaja di kantornya.
Akreditasi institusi akan dinilai oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) dan untuk akreditasi program studi akan dinilai oleh lembaga akreditasi mandiri. Kedua-duanya berasal dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Khusus untuk akreditasi yang menggunakan lembaga akreditasi mandiri, itu dilakukan agar ada transparansi ke publik.
Untuk akreditasi program studi, menurut Jaja, Unpas sudah sangat memadai. Unpas adalah universitas swasta yang memiliki akreditasi terbanyak di Kopertis IV. Tercatat 11 program studi berakreditasi A dan 2 sedang dalam reakreditasi (pengajuan ulang) di Unpas.
Kemudin, disinggung kembali masalah akreditasi institusi, Jaja menyebut sebetulnya masih banyak institusi perguruan tinggi (IPT) swasta yang belum terakreditasi. Hanya baru 632 yang terakreditasi dari 4.300 IPT swasta. Hasilnya pun bisa dikatakan belum begitu baik.
“Baru 24 yang terakreditasi A. 199 terakreditasi B, dan 409 terakreditasi C. Yang mendapat akreditasi A 5 dari swasta, dan 16 dari perguruan tinggi negeri, dan sisanya dari perguruan tinggi agama negeri (PTAN),” ungkap jaja menjelaskan realita akreditasi IPT di Indonesia.
Lebih Lama untuk Hasil yang Lebih Baik
Jaja mendengar bahwa banyak masyarakat yang berpendapat Unpas lambat dalam mengurus akreditasi IPT. Istilah lambat ini dipahami tidak melakukan apa-apa atau Unpas tidak memiliki kompetensi untuk diakreditasi. Menurutnya, itu adalah kesalahpahaman. Kenyataannya, Unpas sudah menyiapkan dan sedang menunggu proses selanjutnya.
“Kita sudah bekerja keras. Kita sudah mempersiapkan segala sesuatu (untuk akreditasi),” paparnya.
Bahkan, sebelum UU Nomor 12 Tahun 2012 wajib diimplementasikan di tahun 2016, di masa kepemimpinan Didi, Rektor Unpas sebelumnya, Unpas mengajukan diri sebagai volunteer (sukarelawan) dalam masalah akreditasi IPT. “Unpas pernah jadi volunteer (akreditasi IPT). Itu ketika rektornya Pak Didi,” ujarnya menjelaskan.
Jaja pun berharap masyarakat bisa lebih bersabar menunggu akreditasi Unpas mengingat proses selanjutnya, yaitu visitasi adalah kewenangan dari BAN PT. Dengan demikian, Unpas hanya bisa menunggu.
Kemudian, bicara harapan tentang hasil akreditasi, ia berharap bisa mendapat A. Itu mengingat Unpas sudah menyiapkan akreditasi ini secara serius dan lama. Jadi, persiapan yang lebih lama untuk hasil yang lebih baik.
Bila saja mendapat A, itu akan sangat istimewa mengingat belum ada IPT swasta yang mendapat A di Jawa Barat. Jaja bertutur, “yang A ini yang (membuat) kita tertantang karena dari 483 perguruan tinggi swasta di Jawa Barat dan Banten, belum ada satu pun yang terakreditasi A.”
Hal itu pun tidak mustahil karena Unpas sudah mempersiapkan akreditasi ini secara serius dan matang. “Kan kita punya strategi (sehingga) mudah-mudahan kita memperoleh hasil A. Dengan catatan bahwa persiapan yang cukup matang sudah kita siapkan,” ujarnya.
***

dedenfirmansoemantri@gmail.com Silahkan untuk Memberi komentar
Published: By: Forumkomunikasifhunpas - Sunday, November 20, 2016

Akreditasi Unpas Siap Ditingkatkan

Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012, disebutkan bahwa tiap universitas harus terakreditasi BAN PT. Jadi, akreditas tidak hanya berlaku untuk jurusan atau program studi, tetapi juga untuk universitas. Menanggapi hal tersebut, Edy Jusuf, Rektor Unpas menyebut bahwa Unpas sudah terakreditasi dan untuk selanjutnya siap untuk meningkatkan akreditasi tersebut. Namun, ia menampik anggapan yang menyebut bahwa Unpas lambat dalam mengurus peningkatan akreditasi universitas.
“Jadi dulu-dulu kita mengerjakan akreditasi itu karena tidak ada perintah undang-undang, tapi (sekarang ada) setelah diundangkan UU No.12 tahun 2012,” paparnya menampik anggapan tersebut.
Akan tetapi, menurutnya tuntutan dari pemerintah pun baru di tahun 2016. “Tapi treat (tindakan) itu di tahun 2016 ini. Oleh karena itu, di tahun 2014/15, kita bentuk tim  pekerja untuk menangani secara serius ketujuh standar IPT (Institusi Perguruan Tinggi).” 
Edy pun menyebut sudah ada tim yang dibentuk dan bekerja selama delapan bulan. Tim ini ditugasi mempersiapkan tuntutan undang-undang tentang akreditasi IPT. Tim ini beranggotakan orang-orang muda yang berdedikasi yang diambil dari tiap fakultas. Pada akhir November 2015 pun mereka berhasil membuat proposal instrumen pengisian borang yang sudah diajukan ke BAN PT. Sekarang Unpas tinggal menunggu asesor IPT melakukan penilaian langsung ke Unpas.
Tidak hanya sudah membentuk tim yang telah bekerja selama delapan bulan ini dalam upaya mempersiapkan akreditasi IPT, unpas selama rentang tahun 2012 hingga 2015 di bawah kepemimpinan Edy Jusuf telah mendapatkan Kepercayaan dan prestasi yang salah satu diantaranya :
  1. PTS mendapatkan Kepercayaan dari 22 Negara Sahabat yang warganya mengikuti studi di Unpas yang berasal Polandia, Turki,Lithuania,Thailand,Jepang,Korsel, Australia,Hungaria,Afsel, Singapura, Malaysia,Somalia, Vietnam, Laos, Tajikistan, Krigistan, Azerbaizan, China, Filipina, Papua Nugini, Ukraina,Timor Leste.
  2. Mendapat kepercayaan dari Kemendikbud RI sebagai Mitra Lembaga penyelenggaraan program sertifikasi.
  3. Mendapat penghargaan dari menhukham RI, Kampus unpas sebagai kampus berbasis HAKI.
  4. Mendapat penghargaan dari menhukham RI, Fakultas Hukum sebagai pemberi klinik hukum sekolah menengah umum 2013.
  5. Mendapat kepercayaan dari ESCAP (Economic Sosial Commisioner Asia Fasifik) pada teknik lingkungan unpas.
  6. Rektor Unpas terpilih sebagai anggota Commissiomer Commiter EEO BULT (Equal Education Oppurtunities By U-Learning Technology) di Gyeongjug Korea Selatan.
  7. Rektor Unpas Terpilih Sebgai Ketua APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Komputer) Wilayah Jawa Barat.
  8. Unpas dipercaya sebagai Pusat Studi Asean oleh Kementrian Luar Negeri RI.

Dengan demikian, dalam upaya untuk meningkatkan akreditasi istitusi, unpas telah mempersiapkannya dengan matang itu terlihat dari pembentukan tim yang di khususkan untuk menyelesaikan  IPT Istitusi dan prosesnya hanya tinggal di akhir bulan april.

dedenfirmansoemantri@gmail.com Silahkan untuk Memberi komentar
Published: By: Forumkomunikasifhunpas - Sunday, November 20, 2016

"Saelmu Sasarengan Sauyunan Salawasna" Reuni Perak Angkatan 90 Teknik Manajemen Industri Unpas


Bandung, IKA Unpas- Dalam rangka menjalin silaturahmi antaralumni, angkatan 90 Teknik Manajemen Industri (TMI) atau saat ini Teknik Industri Unpas menyelenggarakan reuni pada hari Sabtu (09/01/2016), yang bertempat di Aula kampus Unpas Setiabudi. Reuni kali ini terasa berbeda karena bertepatan dengan usia angkatan yg ke 25 atau biasa disebut “reuni perak”.
Selain dihadiri para alumni TMI 90, acara tersebut dihadiri pula perwakilan Dekanat Teknik, beberapa dosen yang dulu mengajar di TMI angkatan 90, dan Ketua Umum IKA UNPAS.
Bayu Subekti sebagai Ketua Panitia sekaligus Ketua Angkatan TMI 90 menjelaskan, dipilihnya tema “Saelmu Sasarengan Sauyunan Salawasna”, selain karena faktor tempat kuliah mereka di Pasundan, didasari pula harapan mereka yang ingin kebersamaan antaralumni 90 tetap terjaga selamanya.
Dalam acara tersebut, banyak sekali kegiatan yang dilakukan, seperti sesi foto, kuliner, dan games. Tak ketinggalan untuk mengenang masa-masa kuliah dulu, ditampilkan foto-foto tempo dulu saat di Unpas. Selain kegiatan-kegitan tersebut, di awal acara, diberikan 2 buah meja multifungsi untuk Jurusan TMI, yang secara simbolis diberikan kepada Ketua Jurusan TMI. Pemberian meja tersebut adalah salah satu ungkapan terima kasih dari alumni 90 ke almamatenya yang telah menjadi tempat mereka menimba ilmu. 
Di akhir acara, Bayu berpesan kepada mahasiswa Unpas dan khusunya mahasiswa Teknik Industri, agar belajar dengan sungguh-sungguh sehingga bisa menjadi manusia yang bermanfaat. Sementara itu, untuk teman-teman angkatan 90, Bayu mengingatkan untuk terus menjaga silaturahmi.
Disinggung program sosial dari angkatan 90, Bayu menyebut bahwa mereka punya program Bapak Asuh. Nantinya program ini akan mewadahi anak-anak yatim piatu dari Angkatan 90 TMI Unpas.

dedenfirmansoemantri@gmail.com Silahkan untuk Memberi komentar
Published: By: Forumkomunikasifhunpas - Sunday, November 20, 2016

Ajat, dari Unpas untuk Banjar


Menempuh pendidikan di Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas di Banjar, tidak menjadikan surutnya perjuangan seorang Ajat Sudrajat dalam meraih cita-citanya untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Ajat saat menempuh pendidikan SMA cukup beruntung dikarenakan tempat sekolahnya adalah satu-satunya SMA di Banjar yang pada waktu itu masuk ke wilayah Kabupaten Ciamis.
Laki-laki berkepala pelontos ini dilahirkan di Purwokerto. Hal itu bisa terjadi karena ayahnya saat itu sedang berdinas di Purwokerto. Ayahnya, Ahmad Argadireja, bekerja di PJKA (kereta api) dan ibunya, Siti Julaeha hanya beraktivitas sebagai ibu rumah tangga.
Tahun 1990, ia masuk ke Jurusan Teknik Industri Manajemen (sekarang Teknik Industri, TI) Unpas. Ia dapat menyelesaikan studinya tersebut selama lima tahun. Menurutnya, banyak sekali kenangan yang ia peroleh selama berkuliah. Salah satunya ketika terdapatnya kesalahpaham antara dia dan kakak tingkatnya. Pada waktu itu, kakak tingkat Ajat sempat menganggap bahwa Ajat sedang membuat perkumpulan tertentu. Anggapan pembentukan kelompok tersebut sempat memicu perselisihan antara Ajat dengan kakak tingkatnya. Namun, kesalahpaham tersebut akhirnya dapat diselesaikan setelah dijalin komunikasi yang intens.
Selain itu, ia juga mengatakan bahwa kuliah di Unpas sangat kekeluargaan sekali. Sebagai contoh, ia menyebut komunikasi antara dosen, pegawai TU, dan mahasiswa dapat berjalan dengan baik dan harmonis. Jadi, jangan heran, bila saat itu, mahasiswa yang mempunyai kendala SPP, tanpa malu dan sungkan, kerap “mencurhatkan” hal itu secara terbuka ke pegawai TU. Hal itu adalah bukti hubungan kekeluargaan yang ada di antara civitas TI Unpas.
Akan tetapi, menurutnya, terpisahnya tiap Fakultas di Unpas menjadi kekurangan Unpas pada saat itu. Contohnya, Fakultas Ekonomi dan Fakultas hukum di Tamansari, FISIP dan Fakultas Teknik di Lengkong, serta MKDU di jalan Kliningan, Buah Batu, Bandung. 
Lelaki yang kerap dipanggil Ajat Doglo menikah di usia muda. Namun, sayang pernikahannya tersebut tidak berlangsung lama. Kemudian, menjelang lulus pada tahun 1995, pihaknya menikah lagi dan dari pernikahan keduanya dikaruniai dua orang anak. Dua anaknya ini sekarang melaksanakan kuliah di Universitas Padjadaran. 
Awal karier ajak tidaklah gemilang. Setelah lulus, ia mencoba melamar ke berbagai posisi pekerjaan. Tetapi, karena nilai IPK yang ia miliki kecil, banyak perusahaan yang menolaknya. Tak kunjung menyerah, akhirny ia pun mendapatkan pekerjaan sebagai sales marketing. Meskipun bekerja sebagai sales marketing tidaklah mudah, lelaki yang berdarah Sunda ini, tetap bersemangat karena ingin membuat orang tuanya bahagia.
Setelah memutuskan berhenti dari sales marketing, Ajat sempat menjadi karyawan di dealer mobil, lalu berbisnis air mineral. Namun, melihat kesendirian Ibu yang sudah tua di Banjat, Ajat merasa iba dan memutuskan untuk pulang kembali ke Banjar. Ketika di Banjar ini, ia mengembangkan sebuah kafe, meskipun pada akhirnya berhenti karena pemilik lahan tidak ingin melajutkan konsep kafe tersebut.
Selanjutnya, setelah melihat sejumla event motorcross di Banjar, Ajat terjun ke dunia event organizer (EO). Awalnya, ia hanya penonton yang melihat dan mengamati bagaimana mengelola sebuah kegiatan. Namun, dari situlah, ia belajar bagaimana merencanakan dan melaksanakan sebuah event. Helmi Sungkar, EO Nasional, adalah salah seorang yang menginspirasi dan sosok yang memberikannya pengetauan tentang EO.
Sesudah itu, melihat potensi penyelenggaraan kegiatan otomotif di Banjar, Ajat mendirikan Ikatan Motor Banjar (IMB). Dari payung organisasi inilah, ia mampu merangkul kalangan otomotif Banjar sekaligus menyelanggrakan sejumlah kegiatan otomotif. Melihat potensi lain, ia pun menyelenggarakan sejumlah kegiatan di bidang, seperti musik dan olahraga. Mendapati keberhasilan sebagai EO, ia terus menjadi EO sampai sekarang.
Pada tahun 2002, ada keinginan masyarakat untuk menjadikan Banjar sebagai Kota. Maka, ketika dibentuk Forum Peningkatan Kota Banjar, ia didaulat sebagai Sekjen. Perjuangan tersebut dimulai dari proses sosialisasi ke masyarakat, lobi ke DPRD Ciamis, DPRD Jawa Barat, DPR RI, dan terakhirnya Departemen dalam Negeri. Akhirnya, 21 Februari 2003, Kota Banjar terbentuk dan terpisah dari Kabupaten Ciamis. 
Setelah itu, ia didaulat menjadi Ketua Panitia Keanggotaan Kota Banjar. Dalam kapasitasnya tersebut, ia ditugasi untuk membentuk DPRD Kota Banjar. Tugas tersebut dapat ia selesaikan di tahun 2004. Kemudian, dalam Pemilihan Walikota Banjar tahun 2004, ia juga dipercaya menjadi Ketua Panita Pengawas Pemilu.
Setelah Pemilu tersebut, Pemerintahan Banjar mengembani Ajat untuk menduduki jabatan di Badan Pengawas PDAM Kota banjar. Melihat kontribusnya yang banyak untuk Banjar, Ajat sempat ditawari untuk menjadi PNS atau kontraktor di Banjar. Namun, ia menolaknya. Hanya saja, tawaran untuk berkecimpung di dunia politik ia terima dan partai Golkarlah yang ia pilih sebagai kendaran politik. Pilihan tersebut ternyata berbuah manis karena dalam dua kali periode pemilihan DPRD, ia terpilih sebagai anggora legislatif Kota Banjar. 
Kegemilangan di dunia politik ini, membawa ia dipercaya menjadi Ketua Fraksi Golkar dan menduduki komisi 3, membawahi Pembangunan, Ciptakarya. PU, Bappeda, Pendidikan, dan Sosial. Selain jabatan tersebut, ia juga menduduki jabatan di Banggar Kota Banjar.
Pesan untuk Wisudawan dan IKA
Menanggapi gelaran wisuda akbar Unpas, Ajat berpesan agar alumni dapat menggali potensi diri mereka dan peka akan hal apa yang sedang dibutuhkan masyarakat. Selain itu, kreativitas dan motivasi tinggi pun harus juga dimiliki. Hal itu disebabkan ilmu yang didapat di kampus, tidak akan cukup, dan hal yang bisa membuatnya cukup adalah kreativitas dan motivasi.
Sebagai lulusan Unpas, Ajat pun sangat senang bila saja ada alumni Unpas yang ingin berkiprah di Banjar. Entah dari lulusan fakultas apa atau jurusan apa, ia mengatakan akan memberikan dukungan untuk mempermudah kiprah mereka di Banjar, asalkan kiprah tersebut demi kemajuan Banjar.
Lalu, untuk IKA sendiri, Ajat berharap dampak dari IKA ini tidaknya dirasakan oleh elit, tetapi mampu dalam mengakomodir tingkat bawah atau kepada puluhan ribu alumni Unpas yang tersebar di Indonesia. Selain itu, organisasi IKA Unpas ini, akan berdampak terhadap ikatan atau emosional yang kuat.

dedenfirmansoemantri@gmail.com Silahkan untuk Memberi komentar
Published: By: Unknown - Friday, November 18, 2016

Birokat Sukses Asal Unpas


Drs.Asep Dedi S.Ip.,M.Si adalah lulusan tahun 1985 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Pasundan (FISIP) Unpas. Semasa kuliah, pihaknya banyak menggeluti dunia organisasi diantarnya Menwa dan Pecinta Alam (Mapak Alam).
Kegiatannya didalam organisasi baik Menwa maupun Mapak Alam, banyak hal yang menarik yang didapat, seperti keikutsertaan di kegiatan Pendidikan Dasar. Dari kegiatan ini, ia berkenalan dengan banyak orang. Menariknya, ternyata pertemanan di Menwa ini berlangsung abadi sampai sekarang. Artinya, meskipun secara fisik tidak bisa bertemu dengan teman-temannya itu, ia masih tetap mempertahankan komunikasi degan mereka.
Dilihat dari karier, Asep Dedi memiliki karier yang cukup gemilang. Setelah lulus dari FISIP Unpas,lelaki yang berkaca mata ini, langsung di terima di Pemerintahan Daerah Jawa Barat. Setelah itu, pengabdiannya dialihtugaskan ke Kota Cirebon. Di tahun 2007, pihaknya diamanati sebagai Staf Ahli. Selang tiga tahun kemudian, pihaknya diangkat menjadi Kepala Dinas Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda).
Ketika menjabat sebagai Bappeda Kota Cirebon,ia banyak sekali mendapatkan tawaran pendidikan baik di dalam negeri dan luar negeri. Setelah tawaran-tawaran tersebut dipikirkan matang-matang, Universitas Padjajaran dipilih sebagainya sebagai tempat menimba ilmu di jenjang magister.
Kemudian, di tahun 2013-2014, jabatan Asisten Administrasi Umum didudukinya. Namun, tugas itu hanya berlangsung singkat karena pada Maret 2014 diamanahi jabatan sebagai Sekretaris Daerah Kota Cirebon. Kepercayaan itu terus Asep Dedi emban sampai sekarang.
Pesan untuk Wisudawan dan IKA
Sebagai salah satu alumnus Unpas yang sukses dalam karier, Asep Dedi berpesan bahwa alumni harus mampu menjaga nama baik almamater dan tetap menjaga komunikasi antaralumni. Kemudian, ia melanjutkan bahwa alumni juga harus memiliki mental yang kuat untuk menghadapi kondisi dan situasi di dunia kerja karena akan ditemukan sejumlah tantangan yang tak dapat diperkirakan. Untuk menghadapi tantangan tersebut, alumni harus mengedepankan sikapprofesionalisme dan terus belajar untuk meningkan kemampuan.
Untuk IKA Unpas sendiri yang telah terbentuk di beberapa daerah, diharapkan dapat memberikan manfaat, tidak hanya untuk silaturahmi saja, tetapi bermanfaat untuk masyarakat pula. Hal itu sejalan dengan mimpi IKA Unpas dan Paguyuban Pasundan, yakni memiliki kepedulian dari para alumni untuk memerangi kemiskinan dan mengurangi kebodohan di masyarakat.

dedenfirmansoemantri@gmail.com Silahkan untuk Memberi komentar
Published: By: Unknown - Friday, November 18, 2016

Asep Dedi dan Tekpang, Dua Hal yang Buat IPB dan UGM Cemburu


Asep Dedi Sutrisno dilahirkan di Bandung, 10 Maret 1961 lelaki yang berdarah Sunda ini memiliki tiga orang anak hasil pernikahannya dengan istrinya, Rita Sri Mulyati Dari tiga anak tersebut, dua anak tertua sudah berkeluarga. Ia menyelesaikan studi di Universitas Pasundan (Unpas) Jurusan Tekhnologi Pangan (Tekpan), pada tahun 1986. Meskipun aktif di Himpunan dan Senat selama kuliah, ternyata prestasi ia raih di bidang olahraga. Terdapat tiga cabang olah raga yang ia tekuni saat itu, yaitu atletik, tenis meja, dan bola voli. Pada bidang atletik, ia sempat meraih medali emas cabang lari jarak pendek dan cepat di Porseni (Pekan Olahraga dan Seni). Lalu di bidang tenis meja, dua medali digondol, yaitu emas dan perak. 
Sebagai bagian dari civitas Tekpan, tahun 1986 Asep Dedi berusaha mendongkrak dan mempromosikan jurusannya ini. Hal tersebut ia lakukan dengan ikut serta diberbagai kegiatan keilmuan dan keilmiahan, baik seminar nasional maupun internasional.
Sebelum menjadi dosen di Unpas, Asep Dedi sempat mengelana dulu. Tercatat ia memilki pengalaman bekerja di sejumlah perusahaan. Selama setahun, dari 1986-1987, ia sempat bekerja di industri makanan. Setelah itu, ia beralih ke bidang konsultan industri makanan yang bertempat di di Jakarta dari 1987-1989. Hanya dua tahun di bidang konsultan, ia kembali berpindah kerja ke PT Limamur di Subang sampai 1990. Sampai tawaran menjadi dosen di Unpas datang kembali padanya, setelah sebelumnya sempat  ditolak. Namun, pada kesempatan kedua pada tahun 1990, menerima tawaran mengajarnya di Unpas.
Akan tetapi, karena lama berkecimpung di dunia kerja lapangan, hasratnya untuk mengembangkan yayasan di bidang pangan tetap ia miliki. Meskipun begitu, pada akhirnya yayasan yang bernama Batalisan (Bangun Tani Lingkung Pedesaan) ini diserahkan kepengurusannya ke orang lain, karena ia sibuk dengan kewajibannya di perkuliahan sebagai dosen.
Di Jurusan, ia sempat dipercaya sebagai Sekretaris Jurusan Teknologi Pangan (1995-1999) dan Ketua Jurusan Teknologi Pangan (1999-2007). Pada masa jabatanya sebagai Ketua itulah, pertama kalinya ada akreditasi. Berkat perjuangan dan kekompakan semua dosen, sistem baru itu bisa tempuh dengan hasil yang baik, yaitu pemerolehan akreditasi A. Itu adalah kebanggaan karena Teknologi Pangan Unpas adalah Jurusan Teknologi Pangan pertama di Indonesia yang mendapatkan nilai akreditasi A.
Akan tetapi, hasil gemilang itu sempat membuat kecemburuan, keraguan, dan kecurigaan dari IPB dan UGM yang hanya mendapat nilai B. Mereka menganggap hasil tersebut semu. Hal itu pun memotivasinya untuk membuktikan bahwa nilai A itu layak. Ia pun mengerahkan segala upaya untuk membuktikan bahwa keraguan itu keliru, dengan membangun kerja sama dengan Pemerintah, BUMN, dan perusahaan swasta. Dengan kerja sama itu, civitas Tekpan dapat unjuk gigi untuk menunjukkan kualitas luaran Jurusan yang berakreditasi A ini. 
Sesudah itu, untuk tetap mempertahankan kulitas Jurusan. Pada saat kepemimpinanya, ditetapkan sejumlah indikator. Indikator-indikator kualitas inilah yang membuat Jurusan Tekpan Unpas kembali meraih akreditasi A, dengan rata-rata nilai yang lebih tinggi dibanding IPB dan UGM. Selain itu, selama menjabat sebagai Ketua, ia juga menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga di luar negeri, seperti UNDP dan JIK.
Dalam masa kepemimpinanya juga, Tekpan mampu memiliki alat laboratorium buatan sendiri, yang selanjutnya menjadi ciri khas dan keunggulan Unpas. Hal itu disebabkan Jurusan Tekpan di perguruan tinggi lain, tidak semua dan hanya sedikit yang mampu melakukan hal tersebut.
Setelah melepas jabatan sebagai Ketua Jurusan pada tahun 2009, Rektor mengembani Asep Dedi untuk mengelola Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM). Jabatan baru tersebut menjadi tantangan baginya karena ia harus mampu membuat LPM dilirik internal Unpas dan eksternal Unpas. Untuk merealisasikan hal itu, pihaknya membuat program-program kerjasama dengan berbagai instansi dan Dirjen Dikti.
Perjuanganya pun berbuah manis, LPK mendapat penghargaan dari Menristek pada tahun 2011-2012 sebagai Lembaga Pelaksana Aplikasi Teknologi Terbaik. Selain itu, LPM pun dipercaya sejak tahun 2012, sebagai Penyelengggara Bidang Teknis atau Orientasi DPRD se-Indonesia, wilayah Jabodetabek. Itu berlangsung hingga sekarang dan minimal dalam 1 bulan ada 3-4 DPRD yang risetnya dilakukan oleh LPM.
Kemudian dari perolehan karier diluar kampus, pihaknya dipercaya menjadi staf ahli pada Dirjen Perindustrian Kimia, tenaga ahli di beberapa Dinas Jawa Barat, salah satunya di Dewan Ketahanan Pangan Jabar, dan satu satu kopja ahli di bidang ketahanan pangan di Dinas Perindustrian.
Pesan untuk Wisudawan
Untuk para alumni, Asep Dedi berpesan untuk mempersipkan segalanya, dari mulai nilai akademik yang baik, termasuk sertifikat keprofesian bagi yang harus memilikinya. Hal itulah yang bagi Asep Dedi, akan menjadi senjata di dunia kerja karena dunia kompetisi kerja itu seperti perang. Hanya yang memiliki senjata lengkap yang mampu menang.
Tak lupa, ia menyarakan agar alumni untuk sesegera mungkin merintis usaha (berwirausaha), karena Indonesia ini negara berkembang sehingga peluang tersebut cukup besar. Menjadi pengusaha, menurut Asep Dedi, selain bisa menghidupi diri sendiri, juga dapat membantu orang lain mendapatkan pekerjaan dan tentunya memajukan ekonomi Indonesia.
Lalu, bagi alumni yang sudah mapan hendaknya dapat membantu adik alumni yang sudah lulus. Toh alumni-alumni Unpas mempunyai softskill yang menghuni sehingga bila dibantu dipekerjakan atau diajak bekerja, bisa berkontribusi untuk kemajuan perusahaan miliknya atau tempatnya bekerja.

dedenfirmansoemantri@gmail.com Silahkan untuk Memberi komentar
Published: By: Unknown - Friday, November 18, 2016

Terus Mengabdi Untuk Unpas


Atang: Terus Mengabdi untuk Unpas
Dekan Fakultas Ekonomi Unpas

Dr. Atang Hermawan, S.E.,M.SIE.,Ak. lahir di Garut, 1 Maret 1965. Dari pernikahan dengan Mimin Nurjanah, S.E., ia dikaruniai tiga anak lelaki. Anak terbesar sekarang berkuliah di Unpad dan yang terkecil masih bersekolah di SD. Sementara sang istri, selain sebagai ibu rumah tangga, aktif juga dalam bisnis keluarga. Dekan Fakultas Ekonomi (FE) Unpas ini,merupakan lulusan Akuntansi Unpas tahun 1984.
Lelaki yang berjiwa seni dan teknologi ini, sebetulnya tidak memiliki niatan untuk berkuliah di jurusan akuntansi. Dengan alasan jiwanya pada seni dan teknologi, di awal pencarian kampus, ia mendaftar ke sejumlah jurusan yang berlatar teknologi, maka tak heran, saat itu kampus tujuannya adalah Unpad dan ITB. Tetapi, nasib berkata lain, ia justru masuk ke Jurusan Akuntansi di Unpas. 
Meskipun begitu, ia sangat bersyukur bisa berkuliah di Unpas, karena ternyata itu adalah jalan awal yang Tuhan berikan untuk merealisasikan mimpi-mimpinya yang “tertunda”.Mimpinya untuk berkuliah di ITB dan Unpas, dapat ia realisasikan di jenjang SI profesi, S2, dan S3 setelah menjadi dosen FE Unpas. Selain itu, ia juga bersyukur karena lewat kariernya di Unpas, penghidupannya bisa tercukupi dan kariernya pun terus menanjak.
Setelah lulus kuliah dari Jurusan Akuntansi Unpas, Atang berkiprah di bidang konsultasi akuntansi.Ia sempat bekerja sebagai konsultan akuntan di kantor akuntan, lalu sempat juga mendirikan kantor konsultan akuntan bersama teman-temannya dari ITB. Pada 1991, kariernya berubah ketika memutuskan hijrah dari perkantoran ke bidang akademis, saatitu, ia diminta almamaternya untuk menjadi dosen. Tawaran tersebut ia pun terima, meskipun sebelumnya, ia sempat ragu menerima tawaran tersebut. Atang pun menjadi dosen di FE Unpas.
Ketika menjadi dosen, Atang bisa melanjutkan studi ke jenjang lanjutan, yaitu S2 di ITB dengan mengambil Jurusan TMI dan S3 di Unpad dengan mengambil Jurusan Ekonomi-Ak. Selama di Unpas, ia pernah mengabdi sebagai Staf Pembina Kemahasiswaan (1990—1991), Koordinator Peneliti Bidang Ekonomi (1991—1992), Sekretaris Jurusan (1993—1999), Ketua Jurusan Akuntansi (1999—2002), dan Sekretaris Program Ekstensi (2004—2006). 
Ketika menjabat sebagai Sekteratis Ekstensi lelaki kelahiran Garut ini merupakan salah satu orang yang merumuskan dan menjalankan program Ekstensi. Ia yang pada waktu itu bersama Popo (dosen FE Unpas) dipanggil Dekan FE dan diminta untuk merumuskan program yang dapat FE lakukan, untuk berkontribusi meningkatkan pelayanan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat. Akhirnya, diawali inisiatif dari Elen (Dosen FE Unpas), Atang dkk. bersepakat untuk membuka kelas ekstensisor, berdasar pada minat masyarakat yang tinggi untuk berkuliah di FE Unpas. 
Program Ekstensi ini adalah program yang dibuka untuk mewadahi masyarakat yang tidak bisa berkuliah secara reguler (kelas pagi). Pada awalnya, program seperti ini dilakukan dengan membuka kelas malam, tetapi sejak 2004, dengan adanya kelas ekstensi yang Atang dkk. buat, maka sarana untuk memberikan pelayanan publik yang lebih baik, disalurkan ke kelas ekstensi yang diadakam sore hari. Program ini pun disambut positif oleh masyarakat. Hal itu dibuktikan dengan antusias yang tinggi dari masyarakat dalam mengikuti program Ekstensi. Dengan didukung akreditasi, sarana, dan prasana, program Ektensi dapat terus berjalan sampai sekarang, di samping kelas reguler yang dilaksanakan di pagi hari.
Setelah menyukseskan program Ekstensi, Atang dipercaya menjadi Wakil Dekan II FE Unpas selama dua periode (2007—2014). Ketika jabatannya sebagai Wakil Dekan berakhir, di tahun yang sama, ia dipercaya oleh civitas Unpas untuk mengabdi sebagai Dekan FE Unpas sampai sekarang. Baik sebagai Wakil Dekan atau Dekan, tujuan Atang tetaplah sama yaitu mengabdi dan memajukan level FE Unpas ke level yang lebih baik dan lebih tinggi. Namun, ia pun menyadari semakin tinggi jabatan yang ia emban, tanggung jawab pengabdiannya pun semakin besar. Dengan demikian, ia menyatakan akan terus berusaha semaksimal mungkin memajukan FE Unpas khususnya dan Unpas pada umumnya. Ia mengatakan pengabdiannya harus dilakukan lebih keras lagi karena adanya realita tantangan ekonomi yang semakin berat, peraturan Pemerintah yang semakin ketat, dan tingkat persaingan antarperguruan tinggi yang semakin kompetitif.
Pesan untuk Para Wisudawan
Menanggapi para mahasiswa Unpas yang diwisuda, Atang berpesan agar para mahasiswa terus mengembangkan kemampuan soft skill karena menurutnya kemampuan tersebutlah yang nantinya akan berperan ketika memasuki dunia kerja. Artinya, titik tekan para wisudawan nanti jangan hanya bermodal IPK saja, tetapi juga soft skill. Dua-duanya harus seimbang karena kedua hal itulah yang akan menjadi kunci sukses.
Lebih lanjut, ia pun mengatakan bahwa IPK hanya syarat masuk kerja, tetapi soft skill adalah cara agar mampu bekerja. Kemampuan seperti berinovasi, berkreativitias, memimpin, bekerja secara tim, dan berkomunikasi adalah contoh-contohsoft skill, yang akan menjadikan para wisudawan mampu bekerja dan bersaing dengan lulusan universitas lain. Bila tidak memiliki hal-hal tersebut, wisudawan nantinya bisa tersisihkan dari dunia kerja karena itu adalah bekal minimal bekerja.
Kemampuan-kemampuansoft skill tersebut hanya didapat oleh para wisudawan yang mandiri ketika kuliah. Artinya, ketika mereka menjadi mahasiswa, mereka tidak hanya duduk diam memerhatikan, tetapi mampu mengembangkan diri dengan cara menunjukkan siapa diri mereka, baik sebagai inovator maupun sebagai dinamisator, serta berhasil memaksimalkan sarana dan prasana di kampus, termasuk dosen sebagai tenaga pengajar.
Kemudian, Atang berpesan bahwa IKA Unpas harus terus berkembang. Perkembangan IKA ini ditunjang oleh keberadaan alumni, maka IKA Unpas harus mampu membuat program yang real yang menunjukkan eksistensi dan mampu merajut komunikasi dengan alumni sehinga keberadaannya dapat dirasakan minimalnya olah alumni Unpas sendiri. Hal itu dapat dimulai dengan cara memperbaiki komunikasi dengan almamater dan memulai komunikasi sedini mungkin dengan para wisudawan. Sebagai contoh, ketika wisuda, IKA hadir dan mengucapkan selamat kepada para lulusan Unpas. Cara tersebut, diyakininya, dapat membuat para alumni nantinya tergerak untuk berperan aktif di IKA.

dedenfirmansoemantri@gmail.com Silahkan untuk Memberi komentar
Published: By: Unknown - Friday, November 18, 2016